Call

By : Ind’s

Ketika waktu bergerak maju

Kau terus menemukan cara memanggil sesamamu

Bahkan tanpa harus mengetuk pintu

Cukup menekan tombol di alat komunikasimu, 

Maka kau dapat memilih siapa yang membukakan pintu

Biarpun pengetahuanmu dapat berkembang mengikuti waktu

Kau tak akan tahu akan satu

Bagaimana Dia memanggilmu

Untuk bertemu satu lawan satu.

Sekian

Seru di Hari Rabu

oleh: ack

Nol nol titik nol satu.

Waktu. Hari berganti Rabu.

Tak banyak yang tahu. Alasan seribu satu, sibuk ini dan itu.

Ketika berlalu, kesal lantas malu.

Nol tiga titik nol nol.

Maksud hati tidak main senggol, tapi ada saja yang tak terima.

Persetan mau dibilang apa. Perhantu mau disilang api.

Seru. Senang di hari Rabu.

Seru. Orang-orang sibuk dengan tanda, seru!

Nol tujuh titik nol nol.

Puisi rapuh dianggap konyol.

Nol tujuh titik nol lima.

Puisi ini, siap diseduh, tanpa tanda, tanya?

Seru, bukan!

Bandung, 2011

Gamis Anarkis

oleh : hamba Allah

Jatuh airmata si gamis

Saat merelakan dirinya dipakai si agamis

Agamis yg apatis

Yang hanya membaca kitabnya sebaris

Si gamis gusar

Karena si agamis tidak sadar

 Tidak sadar bahwa tindakannya tidak benar

Karena Nabi pun halus tidak kasar

Si gamis menangis

Karena terus dipakai si agamis

Memakainya untuk merusak dengan bengis

Berteriak Tuhan tapi berkelakuan Iblis

Sedih hati si gamis

dia lebih baik jadi pakaian pengemis

daripada menjadi gamis anarkis

Cemburu

oleh: sut

Dia pernah bertanya, “Dimana kunang-kunang yang terbang terang

menemani waktu pulang?”

Aku jawab,

"Semua mati diinjak-injak bintang yang tak mau kalah terang, sayang."

"Sekarang aku membenci bintang," katanya.

"Berarti benar kau dulu mencintainya…"

Rasa ini

oleh: sut

I. Baiklah, rasa ini. 

  Ku tak ingin mendusta.
  Tak pula berlebihan.
  
  Ku tahan agar tak meluap, 
  layaknya bendungan di musim hujan.
  Kau bertanya, kenapa?
  Aku yang gampang jatuh gampang tersentuh.
  Hanya takut rapuh selalu.
  Sekali terbuka habislah sudah.
II.
  Adakah yang ingin terus berlanjut.
  Atau ini hanya angin lalu.
  
  Lalu dan berlalu. 
  
  Jika sungguh, aku tak akan mengeluh.
  Badai pasir pun kan ku tempuh.
  
  Jika sungguh. 
  Akan kutarik ucapanku malam itu.
  
  Akan kuingat kau, ku simpan perasaan ini, 
  di sela-sela rambut ikalku. 

Panjang

oleh: Al

untukmu yang tak pernah mau ku pergi;

Aku.

Bukan.

Milikmu lagi.

Sekian.

Titik Balik

oleh: Noic

Bercemara dalam hati tak bisa ungkapkan yang ingin…
Membisu sampai akhirnya terjerembab dan tersungkur di bawah titik balik…
Kosong hingga akhirnya kaki mulai pudar…
Membius semua aroma kehidupan yang gelap bagai malam tanpa purnama…
Kadang bergelombang tanpa tau yang datar dan kadang membiru seperti hari kemarin…
Aku larut dalam semua tanda tanya…
Memutar kepala… Berpikir apa dan bagaimana caranya…
Sesulit itukah…
Tak pernah aku pikirkan sebelumnya atau karena aku belum mencobanya sama sekali…
Aku getarkan nada hati yang sekian lama membiusku…
Rencanaku tak pernah gagal… Janggal dalam hidupku…
Selalu aku genggam dengan telak prinsip ini yang sampai kini masih aku bawa…
Yang menuntunku terbang melintasi matahari…

Tapi sepertinya tak ampuh untuk menggetarkan hatimu…
Aku hapus titik balik hitam yang tak pernah terjadi dan masih kau yakini saat aku pulang Nanti…

(Tampa. Florida USA_1 Maret 2010_11:35 pm)

Menunggu Untuk Hal Yang Tak Ada

oleh: Noic

Membatu sampai habis dahagaku… 
terbelenggu hingga tak ada lagi kata… 
pandangan mulai pudar dan badan semakin meredup… 
jengah membias dari kaki hingga kepala… 
merusak akal sehat sampai berpikir untuk membungkam… 
pejamkan hati ini…tanpa ada setitik tinta yang bertaburan… 
aku lelah…tapi aku baru memulainya… 
sebenarnya hanya untuk temani aku seperti saat ini… 
dimana bisa berbagi canda dan saling lepaskan tawa…walau tak terlihat… 
sepertinya juga hanya untuk malam ini…saat dingin mulai merasuk tulang dan lembab tak terelakkan… 
hampir lupa sang pencipta…aku dan dia hampir tiap malam berkelumum… 
seperti candu ketika lelah mulai menafsirku… 
hanya itu yang bisa aku lakukan… 


"sekali lagi aku menunggu untuk hal yang tak ada…"

(Cococay. Bahamas_11 Mei 2010_12:30 am)

Kembang Goyang Mariah

oleh: Keke

“Mencintaimu Jagat, seperti tubuhku sendiri kujilat. Bukan onani, Jagat. Tetapi aku terlanjur mencintai sebagian dirimu di dalamku”

Menunggu Jagat selalu menyenangkan. Mariah tak pernah bosan. Setiap hari Mariah kerjanya hanya duduk di dipan kayu di bawah pohon randu. Kaki-kakinya yang kurus dan jenjang digoyang-goyangkannya dengan senang, pikirannya melayang, entah kemana mereka terbang. Dari wajahnya senyum terkembang.

Mariah menunggu Jagat melintas. Biasanya, menjelang petang Jagat selalu lewat di depan rumah Mariah dengan butir-butir keringat yang membuat wajahnya berkilauan. Mariah senang melihat kelap-kelip di wajah Jagat. Mariah sering membayangkan dirinya menyecap keringat di pipi dan dahi Jagat dengan bibirnya. Lalu nanti ketika kelap-kelip di wajah Jagat berpindah ke bibir Mariah mungkin Jagat akan berusaha mendapatkan kelipnya kembali.

Menunggu Jagat itu menyenangkan. Mariah belum bosan. Setiap hari kerjanya hanya duduk di dipan kayu di bawah pohon randu, goyang-goyang kaki sambil berangan-angan lepas kendali.  Membayangkan Jagat menciuminya tanpa henti, ah Mariah senang sekali walau lama kelamaan semua itu nampaknya hanya akan berakhir sebagai mimpi. Jagat memang selalu lewat dikala matahari terbenam lamat-lamat. Namun ia memang hanya sebatas lewat, tak pernah menyapa atau menghampiri Mariah barang sesaat.

Mariah senang menunggu Jagat melintas walau Mariah tahu betul apalah dirinya jika dibanding Jagat yang dicintainya. Keringat Mariah hanya akan membuat wajahnya mengilat tanpa kilau-kilau yang bisa menarik perhatian Jagat, apalagi sampai membuat Jagat bersedia mencium dan mencecapnya. Sinar matahari senja juga tidak akan mempercantik wajahnya yang bulat, ah Mariah sadar betul kalau ia tidak begitu sedap dilihat. Dan kalau Jagat tak mau dan tak mampu melihatnya barang sekilas, Mariah rela menatapnya tanpa berkedip selama seabad! Namun bagaimana mungkin Mariah bisa menatap Jagat, kalau melihatnya saja ia tak mampu? Apalagi menyentuhnya seperti dulu. Mariah sadar betul, ia dan Jagat begitu berbeda.Tetapi bukan berarti ia harus berhenti menunggu, kan?

Ah tetapi Mariah tidak sejelek itu. Bukankah baru kemarin Jagat membisikkannya sesuatu? Ya, baru kemarin Jagat membisikkan Mariah tentang kembang goyang. Tentang menyematkan kembang goyang di atas kepala Mariah bulan depan.

“Kembang Goyang untuk Mariah Sayang”

Sore itu Mariah berjalan dengan agak tergesa. Langkahnya lebar dan panjang, kembang-kembang segar bersembulan dari bakul yang digendongnya. Pagi tadi si mbok bilang “Jagat demam” dan Mariah mempercepat langkahnya menuju rumah. Ia tidak sabar mengantar semangkuk bubur untuk Jagat atau menyuapinya sedikit demi sedikit. Mariah mempercepat langkahnya, Jagat sedang menunggunya penuh rindu di rumah.

Mariah melihat Jagat terkulai di atas dipan. Mariah perlahan mendekat dengan semangkuk bubur hangat di telapak tangan. Dirabanya kening Jagat yang basah oleh keringat, hati Mariah melonjak-lonjak nggak karuan. “Biar kukeringkan keringatmu”, Mariah berusaha agar suaranya tidak bergetar. Jagat menarik tangan Mariah ketika Mariah hendak mengambil kain lap diatas meja. Jagat mendekatkan mulutnya ke telinga Mariah, berbisik. Entah apa yang dibisikkan Jagat di telinga Mariah, yang jelas hal itu membuat wajahnya sumringah. Di telinga Mariah tersemat sekuntum kembang. Mariah menatap mata Jagat. Walau Jagat sekarang terpejam, Mariah bisa melihat ada cinta yang merambat.

Lalu detik-detik berikutnya basah oleh peluh, penuh dengan cerita-cerita antar tubuh. Sakitnya Jagat tak bisa meredam sesuatu yang terpercik dari balik celananya. Berbagi bubur hangat mungkin tak bisa sembuhkan Jagat, kenapa tak coba dengan berbagi keringat? Mariah membentang lalu mendekap tubuh Jagat yang basah. Jagat merendah, menyaksikan kuncup-kuncup kembang Mariah bermekaran. Mariah membiarkan Jagat memetik semuanya. Semaunya. Di rahimnya tumbuh setangkai kembang.

“Namaku Mariah, aku kembang yang kuncup”

Mariah menimang-nimang setangkai kembang yang dipetik dari kebunnya sendiri. Kembang goyang? Ah hanya angan. Mimpi tentang kembang goyang bulan depan, semakin lama semakin jauh. Tetapi bukan berarti Mariah harus berhenti menunggu, kan? Jagat pernah bergerit di kasur dan pahanya, sekarang tinggal pahit yang terasa ketika mengingatnya.

Sore itu Mariah masih menunggu Jagat lewat di bawah pohon randu. Mariah tak bosan menunggu walau bertemu Jagat ia tak akan mampu. Jagat sudah hilang, penyakit membawanya terbang. Di pangkuan Mariah, kelopak-kelopak kembang berguguran.

Oleh : @eritz7

Senja ini terlihat malu.
Ia enggan menatapku yang merindumu.

 

Kau tahu.

Aku jalani hari tanpa pernah tahu.
Kenapa kau tinggalkan aku.

Aku belajar mencintaimu secara sederhana.

Belajar mencintaimu tanpa harus kau membalasnya.